Catatan Penalti Dybala Bersama Juventus Masih Sempurna

Paulo Dybala mencetak satu gol melalui eksekusi penalti saat Juventus berhadapan dengan Bologna. Rekor eksekusi penaltinya bersama La Vecchia Signora sejauh ini masih sempurna.

Kala menjalani pertandingan lanjutan Serie A di Juventus Stadium, Senin, 9 Januari 2017 dini hari WIB, Bianconeri memetik kemenangan dengan skor akhir 3 – 0. Tiga gol tersebut dicatat oleh Soccernet hasil dari empat tembakan on target.

Dua gol La Vecchia Signora dalam pertandingan itu dibukukan oleh Gonzalo Higuain pada menit ke-7 dan 54. Sementara satu gol kemenangan Juventus lainnya tercatat atas nama Dybala melalui tendangan penalti.

Pelanggaran yang dilakukan oleh Marios Oikonomou kepada gelandang Juventus, Stefano Sturaro di kotak terlarang menjadi penyebab wasit memberikan hadiah tendangan dari titik putih.

Dybala pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan sukses menaklukkan gawang Antonio Mirante melalui tendangan kaki kirinya yang mengarah ke sisi kiri gawang Bologna.

Berdasarkan catatan yang dirilis oleh, Dybala masih memegang rekor penalti sempurna ketika berseragam Juventus. Dalam 11 kali kesempatan menjadi eksekutor, pemain tim nasional Argentina ini selalu sukses membukukan namanya di papan skor.

Sementara itu, satu torehan bagus dicetak oleh rekan duet Dybala di lini depan Bianconeri, Higuain. Dia menjadi pemain yang sering mencetak gol dalam 15 menit awal pertandingan di Serie A. Catatannya adalah sebanyak empat gol.

Barca Tersendat Lagi, Suarez: Musim Masih Panjang

Perjalanan Barcelona di La Liga Spanyol lagi-lagi tersendat. Dengan jarak yang semakin melebar dengan Real Madrid yang menghuni puncak klasemen, Luis Suarez menegaskan jika saat ini belum waktunya menyerah.

Barca hanya meraih hasil imbang 1 – 1 kala bertandang ke Villarreal, Senin, 9 Januari 2017 dinihari WIB. Tampil dominan, Blaugrana justru ketinggalan lebih dulu setelah dibobol Nicola Sansone di menit ke-50, sebelum akhirnya diselamatkan oleh Lionel Messi di menit-menit akhir.

Barca tidak mampu memaksimalkan beberapa peluang yang diperoleh. Anak-anak Catalan melepaskan total 20 percobaan, tujuh di antaranya mengarah ke gawang dan satu membentur mistar gawang. Sementara Villarreal punya enam upaya dan hanya tiga yang mengarah ke gawang.

Hasil imbang yang mereka dapatkan kali ini merupakan yang keempat kalinya dalam enam pertandingan terakhir di La Liga. Oleh karena itu jarak dengan Madrid pun semakin lebar.

Los Cules saat ini berada duduk si peringkat tiga klasemen sementara dengan perolehan 35 poin dari 17 pertandingan. Mereka tertinggal lima poin dari Madrid yang baru bermain sebanyak 16 kali, juga satu angka di belakang Sevilla di posisi dua.

Dengan stabilnya perjalanan Madrid yang sudah 39 pertandingan tidak terkalahkan, Barca jelas perlu segera berbenah. Luis Suarez merasa kesempatan masih belum tertutup dengan musim masih menyisakan 21 pertandingan lagi.

“Kami tidak bisa memaksimalkan tiga poin dan masih ada jalan panjang yang bisa kami jalani. Hari ini kami bermain sangat baik di level umum. Kami merasa bahwa kami bisa saja menang, begitulah sepakbola,” kata Suarez.

Zidane Tidak Meraih Kesuksesan Dengan Instan

Zinedine Zidane langsung meraih kesuksesan di tahun pertama membesut tim utama Real Madrid. Raihan Zidane tersebut dinilai tidak diperoleh secara instan.

Zidane sukses mengantarkan El Real meraih tiga gelar juara di sepanjang tahun 2016. Trofi-trofi yang berhasil dimenangkannya tersebut antara lain adalah Liga Champions, Piala Super Eropa, serta yang paling baru adalah Piala Dunia Antarklub.

Prestasi Zidane tersebut juga sudah mulai mendapat pengakuan. Manajer berkepala plontos tersebut masuk ke dalam kandidat pelatih calon penerima penghargaan pelatih terbaik versi FIFA tahun 2016.

Mantan rekan Zidane di tim nasional Prancis, Bixente Lizarazu, mengungkapkan jika kesuksesan itu tidak didapatkan oleh Zidane dalam waktu yang singkat. Sebelum menjadi pelatih kepala, Zidane pernah menjadi asisten Carlo Ancelotti saat Don Carlo menangani Real Madrid.

“Zizou tidak sampai di sana secara instan. Kariernya sudah dibangun dalam kurun waktu yang lama dengan konsistensi di momen penting,” kata Lizarazu di As.

“Zizou sudah menjalani banyak momen luar biasa bersama tim nasional Prancis dan juga Real Madrid, dan keseluruhan kariernya sangat luar biasa.”

“Dia sudah melakukan sebuah awal yang sangat bagus untuk seorang pelatih, namun untuk saya itu merupakan suatu hal yang dibangun dalam periode yang lama. Sangat sulit untuk memenangkan Liga Champions, bahkan bagi seorang pelatih yang sudah berpengelaman,” imbuhnya.

Conte Anggap Tottenham sebagai Kandidat Juara

Antonio Conte merasa cukup kecewa karena Chelsea gagal melanjutkan tren kemenangan mereka. Tapi Conte juga tidak membantah bahwa Tottenham Hotspur memang sedang tangguh.

Sebelum takluk di tangan Tottenham, langkah Chelsea seperti tidak terhenti. The Blues memenangkan 13 pertandingan secara berturut-turut di Premier League yang membawa mereka duduk di puncak klasemen.

Tapi rentetan kemenangan tersebut dipatahkan oleh The Lilywhites. Berkunjung ke White Hart Lane, Kamis, 5 Januari 2017 dinihari WIB, Diego Costa dan kawan-kawan dipaksa pulang dengan kepala tertunduk usai kalah 0-2.

Kekalahan itu memang tidak menggusur Chelsea dari puncak klasemen dengan perolehan 49 poin. Namun keunggulan mereka dari Liverpool yang menempati posisi runner up kini terpangkas menjadi lima poin saja.

Tottenham sendiri mulai merangkak naik. Kemenangan atas Chelsea membawa Harry Kane dan rekan-rekannya naik ke peringkat ketiga klasemen dengan perolehan 42 poin.

Conte mengaku kecewa atas kekalahan The Blues. Tapi dia juga tidak membantah jika penampilan The Lilywhites di laga ini memang lebih baik dan mereka menjadi salah satu pesaing untuk memperebutkan gelar juara Premier League.

“Kami kecewa atas kekalahan ini tapi juga harus senang untuk perjalanan kami sejauh ini sebab 13 kemenangan berturut-turut di liga ini tidaklha mudah,” jelas Conte seperti dikutip dari situs resmi Chelsea.

“Hari ini kami kalah dari salah satu tim yang kuat, tim yang benar-benar hebat dan jangan lupa, Tottenham musim lalu adalah salah satu kandidat juara,” lanjut Conte.

Bacca Dilirik Klub-Klub China, Namun Masih Betah Milan

Penyerang AC Milan, Carlos Bacca dikabarkan menjadi incaran dari beberapa klub China Super League pada bursa transfer Januari ini. Namun, striker tim nasional Kolombia itu menyatakan jika dia masih ingin bertahan di AC Milan.

Menurut kabar dari Tuttosport, klub-klub seperti Tianjin Quanjian, Guangzhou Evergrande, dan Shanghai Shenhua sedang berusaha untuk merekrut Bacca. Klub-klub itu kabarnya bersedia mengeluarkan dana sebesar 30 juta euro untuk mendapatkan Bacca.

Agen Bacca, Sergio Barila, mengatakan jika kliennya memang sedang dilirik oleh klub-klub di China Super League. Akan tetapi, Barila juga mengatakan jika Bacca masih nyaman bermain bersama dengan Rossonerri.

“Beberapa tim China berminat untuk merekrut Carlos, dan beberapa diantara mereka sudah mengirimkan proposal kepada kami,” ucap Barila kepada calciomercato.it.

“Namun, dia bilang kepada saya jika dia masih betah di Milan dan ingin bertahan. Dia bermain bersama AC Milan untuk jadi juara dan dia ingin memenangkan lebih banyak trofi setelah Supercoppa,” imbuh Barila.

Bacca pertama kali mendarat di AC Milan usai direkrut dari Sevilla pada musim panas 2015 silam. Dia sampai saat ini telah menyumbangkan 26 gol dalam 58 penampilan bersama Rossoneri.

De Gea Tak Ingin Menangkan Lagi Trofi Pemain Terbaik MU Lagi

David de Gea dinobatkan sebagai pemain terbaik Manchester United dalam beberapa musim terakhir. Pada akhir musim nanti, De Gea tidak ingin mendapatkan kembali predikat tersebut. Apa alasannya?

Untuk ketiga kalinya secara beruntun, penjaga gawang asal Spanyol tersebut meraih penghargaan berupa patung Sir Matt Busby setelah dinobatkan menjadi pemain terbaik MU pada musim 2013/2014, 2014/2015, dan 2015/2016. Catatan tersebut sejajar dengan mantan bintang MU Cristiano Ronaldo.

Dalam kurun waktu tersebut pula MU kesulitan dengan hanya sekali finis di empat besar pada dua musim lalu. Dalam periode tersebut, De Gea memang tampil sebagai pemain MU paling vital karena penyelamatan-penyelamatan penting yang dibuatnya.

Namun kali ini, MU sudah banyak berubah karena adanya Zlatan Ibrahimovic, Henrikh Mkhitaryan, dan Paul Pogba. Ketiga pemain tersebut mampu tampil impresif walaupun De Gea juga mampu mempertahankan performa apik, salah satunya adalah dalam laga West Ham di mana dia membuat dua penyelamatan penting.

De Gea tidak ingin lagi memenangkan trofi tersebut pada akhir musim nanti. Menurut De Gea, trofi yang diterimanya tersebut justru menandakan MU mengalami kesulitan.

“Aku lebih memilih seorang penyerang atau pemain depan lain yang memenangkannya. Jika penyerang yang menerimanya, itu berarti tim sebagai keseluruhan bermain bagus dan mencetak banyak gol, karena hal itu lebih baik untuk tim,” ungkap De Gea.

Selama berseragam The Red Devils, De Gea sudah berhasil memeanngkan medali juara Premier League dan Piala FA. Rasa lapar akan gelar juara masih terus dirasakan oleh De Gea.